Bertempat di sepanjang jalan
Malioboro Yogyakarta, kami melakukan interview kebeberapa narasumber, di
antara banyaknya profesi yang mengantungkan hidupnya di jalan Malioboro, kami memimilih 3 profesi
untuk di jadikan sample analisa social kami, dan ke tiga profesi itu ialah
tukang parkir, tukang becak, dan pedagang kaki lima. Perlu di ketahuai dalam
proses interview ini kami berusaha agar menyembunyikan identitas asli kami guna
mengindari agar narasumber yang kami tanya tidak merasa terbebani atas pertanyaan-pertanyaan
yang kami lontarkan, kami berusaha santai dan sedekat mungkin dengan sang
narasumber, agar sang narasumberpun enjoy dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang kami lontarkan. Untuk mendapatkan data dari narasumber ini kami
melontarkan beberapa pertanyaan ke pada mereka, dan beberapa pertanyaan
tersebut adalah, Domisili narasumber?, apakah mempunyai keluarga di Jogja?,
permasalahan selama ini dalam menjalankan profesinya?, jika dia tukang becak apa itu milik pribadi?
Dan kalau dia tukang parkir apakah ada yang mengkoordinir?, kemudia bagaimana
tanggapan mereka tentang Aksi demonstrasi mahasiswa yang sering terjadi di
jalan Malioboro?.
Pada percobaan pertama kami
berkesempatan mewawancarai seorang ibu penjual sate ayam, beliau berasal dari
Madura, namun saat ini ada beberapa keluarga beliau yang tinggal di Jogja,
dalam menjalankan usaha terkadang beliau sering di tahan satpol pp lantaran
dalam menjalankan usaha ini mereka tidak mengantongi ijin usaha, kemudian
beliau mengatakan kalau usaha ini milik sendiri alias tidak ada yang mengkoordinir,
tanggapan beliau tentang seringnya aksi demonstrasi mahasiswa biasa aja selama
itu tidak menganggu kegiatan beliau berdagang.
Narasumber kedua kami
mewawancarai tukang parkir, beliau adalah orang Jogja asli, lantaran orang
Jogja maka keluarga besarnya tentu juga masih ada di Jogja, beliau mengaku
dalam menangani masalah parkir tidak terlalu banyak masalah yang di alami,
cuman beliau sempat mengatakan bahwasanya dulu sering terjadi insiden kehilangan
helem namun sekarang insiden itu hampir tidak terjadi lagi, beliau juga
mengatakan bahwa yang mengkoordinasi mereka adalah pemerintah kota Jogja,
kemudian beliau mendukung aksi demonstrasi mahasiswa selama aksi tersebut
benar-benar mewakili aspirasi masyarakat dan tidak menganggu masyarakat umum.
Dan narasumber ketiga kami adalah
tukang becak, beliau asli Jogaj, keluaraganya juga masih berada di Jogja,
sebenarnya beliau ini lebih pas di sebut tukang becak motor, lantaran beliau
tidak menggunkan sepeda dalam menjalankan becaknya, melainkan menggunakan mesin
sepeda motor untuk menjalankan becaknya, karena menggunkan mesin dalam
menjalankan becaknya maka beliau mengeluhkan mahalnya harga BBM, beliau
berharap agar pemerintah tidak lagi menaikan harga BBM, karna itu akan sangat
membebani, beliau juga mengatakan bahwa becak motor itu adalah milik sendiri,
kemudian beliau menanggapi aksi demonstrasi mahasiswa sebagai hal yang biasa
aja, selama tidak merugikan orang lain beliau mengatakan itu hal yang biasa dan
wajar.
No comments:
Post a Comment