Sunday, 16 November 2014

Mengharukan, Penyesalan Terdalam Seorang Bankir Sukses

TRIBUN-MEDAN.com – Hidup ini berjalan begitu cepat dan ringkas. Terkadang, kita bahkan tidak sadar, atau mungkin berpura-pura menerima, bahwa kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Kalian tahu, ternyata lebih mudah mencari pekerjaan atau jodoh dibanding menjadi pribadi yang kita inginkan atau cita-citakan.
John Jerryson, seorang bankir sukses berusia 46 tahun, menulis sebuah surat terbuka di sebuah media lokal Australia. Ia menceritakan seluruh kisah hidupnya di dalam tulisan itu. Namun jangan berharap Anda akan membaca kisah sukses seorang bankir disini. Karena yang tertulis ternyata hanyalah penyesalan akan hidupnya. Ia, akhirnya, sadar bagaimana ia menyia-nyiakan hidupnya selama ini. John bahkan menganggap dirinya bagaikan orang asing.
Ratusan orang merespon surat terbuka John dan banyak diantaranya memberikan simpati dan motivasi. Apa sebenarnya yang dituliskan John dalam suratnya?
“Hai, namaku John. Aku sudah berpikir cukup lama, namun akhirnya aku menuliskan hal ini. Aku harus mengeluarkan semua yang tersimpan di hatiku. Aku seorang bankir yang berusia 46 tahun dan selama ini ternyata aku hidup tidak seperti yang aku inginkan. Semua mimpiku, keinginanku, sudah hilang. Aku selalu kerja enam hari selama seminggu dalam 26 tahun ini. Aku selalu memilih jalur yang aman untuk semua yang kulakukan. Tak kusangka hal itu lah yang ternyata justru telah mengubah pribadiku.
Aku mendapati istriku ternyata sudah berselingkuh sejak 10 tahun terakhir. Anakku juga tidak begitu peduli denganku. Aku juga baru sadar bahwa aku tidak hadir di pemakaman ayahku tanpa ada alasan apapun. Hobiku menulis novel tapi aku tidak pernah menyelesaikannya. Aku juga tidak jadi menggeluti hobi travellingku yang selalu kucita-citakan.  Padahal hal-hal itulah yang menjadi keinginan dan cita-citaku sejak masih remaja dulu. Kalau lah gambaran remajaku datang saat ini, aku pasti sudah memukul wajahku sendiri. Aku akan menyesali kenapa semua mimpiku begitu cepat hancur.
Masih seperti kemarin rasanya ketika aku masih berumur 20 tahun. Masih seperti kemarin rasanya ketika aku begitu bernafsu mengubah dunia. Orang-orang di sekitar begitu menyayangiku. Dan aku juga menyayangi mereka. Aku begitu inovatif, kreatif, spontan, tak takut resiko dan sangat baik kepada orang lain. Aku hanya punya dua mimpi, yaitu menulis sebuah buku dan yang berikutnya adalah mengelilingi dunia dan menolong mereka yang membutuhkan.
Lalu akhirnya aku menikah dengan perempuan yang kupacari selama empat tahun. Cinta yang begitu nyata. Ia menyukai semua hal yang ada padaku. Spontanitas, enerjik dan kemampuanku untuk membuat orang lain tertawa dan merasa begitu dicintai.
Aku tahu bahwa bukuku kelak akan mengubah dunia. Aku akan memperlihatkan cara pandang yang berbeda, membuat pembacaku berpikir dengan cara yang berbeda sehingga. Aku pun bersemangat menulis buku itu sejak umur 20 tahun. Ketika itu aku sudah sampai di halaman 70. Dan kini, ketika umurku sudah 46 tahun, bukunya tetap masih di halaman 70….
Dulu aku pernah backpacker ke New Zealand dan Philipina. Aku berencana mengelilingi Asia, Eropa dan kemudian Amerika. Ternyata sampai saat ini pun, aku tidak pernah lagi pergi ke tempat lain selain di dua negara itu.
Dimana sebenarnya kesalahanku? Penyesalanku terjadi ketika saat aku berpikir bahwa aku harus menggeluti pekerjaan yang mapan. Yang sesuai dengan perkuliahanku. Aku memilih bekerja kantoran, dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Setiap hari seperti itu. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Apakah itu yang dinamakan hidup? Ketika aku harus bekerja dan hanya mengisi waktu dengan makan malam, bekerja untuk persiapan esok hari di kantor dan tidur jam 10 malam? Lalu bangun esoknya di jam 6 pagi? Itu yang namanya hidup? Oh Tuhan, terkadang aku sampai lupa kapan terakhir kali aku bercinta dengan istriku.
Istriku, ya istriku akhirnya mengakui kalau ia telah berselingkuh selama 10 tahun terakhir. 10 tahun! Tampaknya begitu lama ya? Tapi aku tak lagi tahu bagaimana rasanya. Bahkan aku tidak merasa sakit hati. Katanya ia selingkuh karena aku telah berubah. Aku tak seperti diriku yang dulu. Lalu apa sebenarnya yang kulakukan 10 tahun terakhir ini? Selain bekerja dan bekerja, aku tak tahu lagi apa yang pernah kulakukan. Yang pasti aku sadar, aku bukanlah suami yang baik seperti orang kebanyakan. Tidak menjadi diriku sendiri.
Siapa sebenarnya aku? Apa yang terjadi denganku? Mengetahui istriku sudah selingkuh pun aku diam saja. Aku bahkan tidak menuntut perceraian. Tidak marah. Tidak berteriak kepadanya. Dan bahkan tidak menangis. Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika aku menuliskan surat ini justru aku menangis. Tapi bukan karena kelakukan istriku. Melainkan karena aku merasa benar-benar hampa.
Ayahku meninggal 10 tahun yang lalu. Aku ingat betul hari itu. Ibuku menelponku dan memberi kabar bahwa ayah sakit keras. Tapi aku sangat sibuk saat itu karena harus mempersiapkan masa promosi jabatanku. Padahal sudah 15 tahun aku tidak melihat ayahku. Tapi aku tak pernah datang menjenguknya dan berharap ia akan baik-baik saja. Ia meninggal. Disaat yang bersamaan jabatanku dinaikkan di kantor.
 Ketika ia meninggal, aku malah berkata pada diriku sendiri bahwa tak masalah kalaupun aku tak datang. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Semua kurasionalisasi. Semuanya kubuat menjadi mungkin. Pola pikir yang sebenarnya sangat salah karena hanya untuk mendapatkan kemapanan secara finansial.
Sekarang aku sadar, semua ini tidak benar. Aku menyesali banyak hal yang tidak jadi kulakukan padahal aku masih memiliki kemampuan. Aku menyesal karena pekerjaanku sudah mengambil alih seluruh hidupku. Aku suami yang buruk..Aku hanyalah mesin pencari uang.
Sekarang aku menyesal karena tidak menyelesaikan novelku. Tidak mengelilingi dunia seperti yang kuimpikan. Tidak pernah menjadi ayah yang selalu siap untuk anaknya. Aku bagaikan dompet tebal yang tidak memiliki rasa..
Kalau kalian membaca ini dan sedang memikirkan masa depan kalian, kuharap jangan menunda apapun. Jangan tunda mimpi-impi kalian. Percayalah pada kemampuanmu. Lakukanlah sesuatu selagi kau masih muda. Jangan cepat merasa nyaman. Jangan lupakan teman-teman dan keluarga terbaikmu. Jangan sia-siakan hidupmu seperti yang kulakukan. Kumohon jangan…
Maaf karena aku bercerita terlalu panjang. Sekarang aku merasa sangat hampa, tua dan begitu lelah…. (ers/tribun-medan.com)


Wednesday, 5 November 2014

https://www.facebook.com/pc.immarfakhruddin.9?ref=br_rs




MAHASISWA


Orang bilang mereka kandidat orang-orang sukses
Manisnya titile sarjana siapa yang ngga ke pincut
Masa depan cerah seolah telah di depan mata
Tapi masa depan apa?

Orang bilang mereka kaum kreatif
Beragam inovasipun muncul dari hasil pemikiran mereka
Yaa mereka memang banyak melahirkan inovasi
Tapi, itu apa dan untuk siapa?
     
Mereka mengaku bukan budak
Ya, bukan budak kurikulum
Mereka merasa kaum yang bebas
Ya, bebas dari apa?

Kerja di perusahaan besar itu cita-citanya
Seolah mereka belajar hanya untuk mentok di meja-meja kantor
Tidak peduli itu perusahaan apa, yang penting upahnya besar
Belajar untuk jadi pesuruh, mungkinkah itu?
Apakah selama ini mereka belajar untuk jadi penyuruh?

Katanya, dengan banyak belajar maka title itu akan cepat di raih
Title tak ubahnya upah bagi yang rajin belajar
Ya title sarjana

Tapi, belajar apa dan untuk apa?

By:soer

Wednesday, 18 June 2014

Sastra: Deklarasi Matinya Ikatan

Tulisan ini karya Immawan Bagus Susetyo, beliau menulis ini atas keprihatinan beliau terhadap kondisi kader IMM FT UMY 2012 yang notabendnya akan menjadi pimpinan Komisariat 2014/2015 yang di nilai kurang progresif. ketika postingan ini muncul di halaman grup IMM FT UMY saya bahkan berulang-ulang kali membacanya, saya selaku kader IMM FT UMY angkatan 2012 merasa tertantang atas sindiran yang di lakukan Immawan Bagus Susetyo lewat tulisannya, di samping itu saya juga selaku kader 2012 mengiyakan bahwasanya kondisi kader IMM FT UMY 2012 memang kurang progresif bahkan sebagian besar dari kami merasa acuh tak acuh akan status mereka sebagai kader IMM FT UMY, dan seolah-olah merekapun lupa kalau mereka pernah di sumpah atas nama Allah swt. untuk mengabdi kepada IMM FT UMY.
Berikut ini adalah link facebook Immawan Bagus Susetyo: https://www.facebook.com/dhen.bagoes.ngarso?fref=nf
twitter: https://twitter.com/radhen22

Sastra: Deklarasi Matinya Ikatan
kau itu banyak,
kosong.. namun tak mau mengisi,
tak tau logika struktur,
apalagi tentang etika organisasi,
sok-sokan menafsirkan medan,
sudah terbukti.. belumlah berangkat kaupun sudah mati,
tak me-RE-VO-LU-SI !,
tetap saja memaksa memantaskan diri,
tak RAPAT !-kan barisan,
mau merapat jika ada kepentingan,
tak PRO-GRE-SIF !
dominasimu hanya pasif,
tak MI-LI-TAN !,
malahan cenderung cengengesan,
tak baca buku,
terlihat jika bicara NGAWUR ! melulu,
tak berdiskusi,
lalu dengan apa kau me-RE-VO-LU-SI ?,
"apa guna Negarakertagama kau karang Prapanca !"
jika Majapahit kemudian dihancurkan perang saudara,
"apa guna Negara ini kau dirikan Soekarno !"
jika kemudian menjadi sarang koruptor,
"apa guna kau kritisi birokrasi ini Soe Hok Gie !"
jika kemudian orang yang MENGAKU berada dibarisanmu berkhianat pada IKRAR-nya sendiri,
Kini kusampaikan sebuah Deklarasi keputusasaaan,
agar anak cucuku nanti,
ikut menikmati kemegahan dan andil dalam perjuangan dibarisan ini,
atau,
sama sekali tak mengenal.. karena saat itu ternyata Ikatan sudah mati.
.senopathy/.


Friday, 11 April 2014

Bertempat di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, kami melakukan interview kebeberapa narasumber, di antara banyaknya profesi yang mengantungkan hidupnya di  jalan Malioboro, kami memimilih 3 profesi untuk di jadikan sample analisa social kami, dan ke tiga profesi itu ialah tukang parkir, tukang becak, dan pedagang kaki lima. Perlu di ketahuai dalam proses interview ini kami berusaha agar menyembunyikan identitas asli kami guna mengindari agar narasumber yang kami tanya tidak merasa terbebani atas pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan, kami berusaha santai dan sedekat mungkin dengan sang narasumber, agar sang narasumberpun enjoy dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan. Untuk mendapatkan data dari narasumber ini kami melontarkan beberapa pertanyaan ke pada mereka, dan beberapa pertanyaan tersebut adalah, Domisili narasumber?, apakah mempunyai keluarga di Jogja?, permasalahan selama ini dalam menjalankan profesinya?,  jika dia tukang becak apa itu milik pribadi? Dan kalau dia tukang parkir apakah ada yang mengkoordinir?, kemudia bagaimana tanggapan mereka tentang Aksi demonstrasi mahasiswa yang sering terjadi di jalan Malioboro?.
Pada percobaan pertama kami berkesempatan mewawancarai seorang ibu penjual sate ayam, beliau berasal dari Madura, namun saat ini ada beberapa keluarga beliau yang tinggal di Jogja, dalam menjalankan usaha terkadang beliau sering di tahan satpol pp lantaran dalam menjalankan usaha ini mereka tidak mengantongi ijin usaha, kemudian beliau mengatakan kalau usaha ini milik sendiri alias tidak ada yang mengkoordinir, tanggapan beliau tentang seringnya aksi demonstrasi mahasiswa biasa aja selama itu tidak menganggu kegiatan beliau berdagang.
Narasumber kedua kami mewawancarai tukang parkir, beliau adalah orang Jogja asli, lantaran orang Jogja maka keluarga besarnya tentu juga masih ada di Jogja, beliau mengaku dalam menangani masalah parkir tidak terlalu banyak masalah yang di alami, cuman beliau sempat mengatakan bahwasanya dulu sering terjadi insiden kehilangan helem namun sekarang insiden itu hampir tidak terjadi lagi, beliau juga mengatakan bahwa yang mengkoordinasi mereka adalah pemerintah kota Jogja, kemudian beliau mendukung aksi demonstrasi mahasiswa selama aksi tersebut benar-benar mewakili aspirasi masyarakat dan tidak menganggu masyarakat umum.

Dan narasumber ketiga kami adalah tukang becak, beliau asli Jogaj, keluaraganya juga masih berada di Jogja, sebenarnya beliau ini lebih pas di sebut tukang becak motor, lantaran beliau tidak menggunkan sepeda dalam menjalankan becaknya, melainkan menggunakan mesin sepeda motor untuk menjalankan becaknya, karena menggunkan mesin dalam menjalankan becaknya maka beliau mengeluhkan mahalnya harga BBM, beliau berharap agar pemerintah tidak lagi menaikan harga BBM, karna itu akan sangat membebani, beliau juga mengatakan bahwa becak motor itu adalah milik sendiri, kemudian beliau menanggapi aksi demonstrasi mahasiswa sebagai hal yang biasa aja, selama tidak merugikan orang lain beliau mengatakan itu hal yang biasa dan wajar.



Sunday, 23 March 2014

Makna Lagu Darah Juang

DARAH JUANG
Di sini negeri kami
tempat padi terhampar
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.
Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
Bunda, relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat
padamu kami berjanji
Lagu ini menggambarkan keprihatinan atas keadaan suatu Bangsa yang kaya akan sumber daya alam, namun ironi sebagian rakyatnya masih menderita atas penindasan dan pembodohan yang di lakukan oleh kaum penguasa yang hanya ingin menguras sumber daya alam tanpa memikirkan nasib rakyatnya, ironi memang di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini masih banyak kita melihat rakyat  yang menderita, kita ambil contoh di Papua, di balik megahnya PT.Freeport yang ada disana seolah berbanding terbalik dengan kesejahteraan masyarakat yang di sana, masalah kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, infrastruktur yang sangat tidak memadai dll. Adalah contoh masalah yang di derita oleh masyarakat sana, ibarat pepatah “Ayam mati di lumbung padi”.
Lagu ini juga mengajak para Pemuda/Mahasiswa untuk mari bersama-sama kita berjuang untuk membebaskan rakyat, menyadarkan rakyat, bahwasanya kita saat ini hidup di negeri yang subur, oleh karena itu kita tidak punya alasan untuk hidup sengsara secara terus menerus, karena negeri kita adalah negeri yang subur, negeri yang kaya akan sumber daya alam, dan kita punya segalanya untuk menjadi masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Bunda relakan darah juang kami, ridohi perjuangan kami, padamu kami berjanji.




KEMISKINAN


Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana seseorang kekurangan hal yang biasa dimiliki, dan hal yang biasa dimiliki bisa dalam beberapa aspek. Di Indonesia ini masalah kemiskinan tidak ada habisnya, bahkan angka kemiskinan terus meningkat tiap tahunnya. Tidak sedikit masyarakat di luar sana yang mengenal Negeri ini karana kemiskinannya bukan karna prestasi ataupun juga karna keindahan alamnya, parahnya lagi hal ini seolah-olah di iyakan oleh masyarakat kita sendiri, petanyaannya apakah Negeri ini sudah begitu indentik dengan Negara miskin? Dalam hal ini miskin materi  tentunya. Bisa saja pemerintah mengkalaim bahwasanya angka kemiskinan di Indonesia telah menurun dari presentase tahun lalu, namun ini tentu menjadi tanda tanya besar bagi kita semua jika kita melihat kehidupan masyarakat di sekitar kita di mana masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, secara kualitas kemiskinan justru mengalami involusi dan cenderung semakin kronis, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Kemiskinan ini dapat di sebabkan oleh beberapa factor, antara lain:
-                   Korupsi, hal ini menyumbangkan banyak sekali warga miskin di Indonesia, karena banyak bantuan yang harusnya untuk membantu masyarakat miskin malah di ambil orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan mereke sendiri, akibatnya banyak bantuan social yg tak tersampaikan ke pada masyarakat, missal: Bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan modal usaha, bantuan infrastruktur, dll.
-             Lemahnya  kualitas SDM, ini yang menyebabkan kemiskinan susah sekali berkurang,  Bisa diketahui banyak SDM di Indonesia memiliki kualitas yang lemah, sehingga para SDM tidak mempunyai keahlian yang bisa di gunakan untuk mendapatkan penghasilan. Dan menurut saya lemahnya SDM kita ini juga bisa di sebabkan oleh korupsi tadi, karana banyak bantuan social untuk pendidikan dan palatihan demi menunjang terbentuknya SDM yang berkualitas malah banyak yang tidak terealisasikan.
-                Kebijakan pemerintah yang seolah tidak propemerintah missal, Kebijakan pemerintah membolehkan super market dan pasar modren masuk hingga ke tingkat kecamatan juga akan berdampak terhadap pasar tradisional yang sebahagian besar dikelola oleh masyarakat kelas bawah. Kebijakan yang berpihak pada pasar bebas dan kurang peduli dengan kesiapan para petaninya sendiri tentu akan berdampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat dan akhirnya berujung pada kemiskinan. Dan contoh lain juga  , ijin yang diberikan pemerintah kepada pengusaha untuk membuka perkebunan besar, terkadang menimbulkan kemiskinan. Hutan yang dibabat dan dijadikan kebun sawit, dapat membuat keringnya sungai dan irigasi.
P          Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
-                Kurang pekanya masyarakat mapan untuk membantu masyarakat miskin. Ini juga menjadi pertanyaan moral,  bagiamana kita harus peka terhadap linkungan sosial masyarakat di lingkungan kita, kita seolah menutup mata akan masih banyaknya masyarakat yang butuh bantuan dari kita, bukankah agama juga menganjurkan untuk kita saling membantu.