Friday, 15 May 2015

Dinamika perkembangan pembanguan Kota Yogyakarta


Kota Yogyakarta sebagai salah satu kota kuno di Indonesia merupakan kota yang lahir secara terencana. Dalam hal ini baik pemilihan lokasi hingga rencana tata ruang semua terencana dengan baik. Civic center (CBD) yang dimilikinya berfungsi sebagai pusat bagi berbagai macam kegiatan penduduk, baik sebagai pusat politik, spiritual, ekonomi, pertahanan, dan rekreasi (Kostof, 1992). Adapun yang menjadi Civic center (CBD) ini merupakan kawasan keraton dan sekitarnya hingga kepatihan. Dalam kawasan ini terdapat berbagai macam bangunan yang digunakan sebagai kawasan permukiman maupun pusat kegiatan perdagangan dan jasa yang berguna untuk menunjang kehidupan bermasyarakat. Civic Center di pusat Kota Yogyakarta ini membentuk sebuah pola tertentu. Civic Center (CBD) ini dijadikan sebagai pusat kehidupan penduduk kota karena di dalamnya terdapat komponen yang merepresentasikan aspek kehidupan sosial, politik, keagamaaan, dan ekonomi. Adapun pola-pola tersebut adalah alun-alun  yang merupakan pusat kota dikelilingi Masjid Agung di sebelah baratnya, keraton di sebelah selatannya, dan pasar di sebelah utara.
Kota Yogyakarta juga menyandang julukan sebagai kota pelajar, mengingat banyaknya perguruan tinggi yang ada di joga di tambah lagi banyak masyarakat luar Jogja bahkan luar Negeri yang memilih Jogja sebagai kota dimana mereka menuntut ilmu, hal ini dukung dengan iklim kota jogja yang di kenal aman, ramah, berbudaya, berhati nyaman dll. Tidak hanya mempunyai nilai historis yang sangat berharga dalam proses berdirinya NKRI, namun Jogja juga mempunyai banyak destinasi untuk para wisatawan,  bahkan saat ini menjadi salah satu destinasi wisata local maupun mancanegara , diperlukan peran besar dari pemerintah Kota Yogyakarta untuk dapat terus mengembangkan potensi yang ada melalui penyediaan fasilitas, seperti transportasi baik yang dapat diwujudkan dalam upaya peningkatan fungsi jalan maupun penciptaan kendaraan yang dapat mejangkau setiap tempat yang menjadi potensi tersebut. adapun kendaraan yang dapat digunakan baik kendaraan bermotor maupun tidak bermotor; fasilitas penginapan; pusat-pusat perbelanjaan yang layak dan disediakan fasilitas khusus untuk itu; dan jasa-jasa lainnya. Diperlukan pula peran dari masyarakat setempat dalam upaya mendukung kebijkan pemerintah yang telah dicanangkan yang tentunya kebijkan itu masih tetap mengacu pada budaya lokal sehingga dengan berkembangnya potensi budaya lokal juga masih dapat tetap terjaga.
Atas semua potensi wisata yang dimiliki Jogja tentunya banyak pemodal-pemodal asing maupun local yang ingin berinvestasi di Jogja, dalam hal ini tentu pemerintah pastinya akan menyambut baik hal itu, untuk menarik para kaum borjuis tersebut pemerintah kota Jogja pastinya membangun saran dan prasana agar para pemodal tersebut lebih yakin lagi untuk berinvestasi di Jogja. Masalahnya bagaimana jika pembangunan tersebut justru mengancam eksistensi jogja sebagai kota yang berhati nyaman, kota yang ramah akan penduduknya.
Dr. Sutaryono (Dosen Fakultas Geografi UGM) mengungkapkan; bagaimana kondisi Kota Yogyakarta yang pada tahun 2011 – 2013 memiliki predikat sebagai kota ternyaman di Indonesia. Akan tetapi, pada tahun 2014 peringkat Kota Yogyakarta sebgai kota ternyaman merosot sampai peringkat empat di Indonesia. Hal ini dapat menjadi pertanyaan dalam merujuk penyataan–pernyataan apa yang sebenarnya terjadi di Kota Yogyakarta. Pembangunan apartemen dan condotel yang sengaja digunakan untuk kawasan komersial, sangat mengganggu stabilitas lingkungan fisik kota. Gangguan tersebut terjadi karena sebagian besar pembuatan hotel tidak memiliki perhatian pada lingkungan. Sehingga mengakibatkan penurunan muka air tanah sebesar 30 cm setiap tahunnya. Penurunan muka air tanah ini menyebabkan sumur warga sekitar hotel mongering. Contoh kasus keringnya sumur warga terdapat disekitar Hotel Fave. Warga melakukan demo untuk menuntut tanggung jawab pihak hotel atas mengeringnya sumur warga dengan cara aksi teatrikal. Selain itu, terdapat pernyataan Jogja Berhenti Nyaman. Ketidaknyamanan Kota Yogyakarta terjadi akibat banyaknya simpul macet sehingga diberlakukannya aturan on off atau buka tutup lajur kendaraan yang justru membuat pengunjung menjadi merasa tidak nyaman. Kabupaten Sleman sejak tahun 2004 —2012 tercatat tidak memiliki RT/RW kabupaten. Akibanya konversi lahan menjadi kacau karena merupakan wilayah abu-abu. Kacaunya penataan ruang juga disebabkan oleh RDTR yang ada di DIY tidak ada yang terbit, sehingga tidak adanya instrument yang mengatur dan mengawasi penataan ruang di Yogyakarta. Terbukti dari sebanyak 104 izin pendirian hotel yang turun dan 30 hotel sedang dalam proses pembangunan.
Di tiap pembangunan Mall di Yogya selalu ada resistensi dari banyak warga. Tahun 2004-2005 Sultan gigih memperjuangkan suksesnya pembangunan Ambarukmo Plaza yang banyak disesalkan warga karena kudu merobohkan 1 bangunan bersejarah, Gandok Tengen, merupakan bagian dari Pesanggrahan Ambarukmo yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855). Waktu itu Sultan tak bergeming dengan sering mendengungkan kalau mall baru ini nantinya akan menjadi sebuah konsep mall yang punya keunikan edukasi sejarah, akan jadi semacam museum di dalam mall.
Pembangunan Ambarukmo Plaza juga menggusur 1 sekolah SD yang masih aktif dimanfaatkan. Di kota yang katanya kota pendidikan, ternyata ada sekolah yang kalah sama mall.
Warga Yogya juga pernah sukses menggalang penolakan pembangunan mall di sebuah bidang tanah kosong di Terban. Waktu itu pemerintah tampak lebih ramah dengan sebelumnya membuka contact centre yang menampung pendapat warga. Mall baru itu pun tak jadi dibangun, menyisakan sebuah gerai masakan cepat saji McD yang sebelumnya tampak bersiap jadi salah satu tenant mall.
Namun warga kembali tak berdaya ketika mencoba menolak pembangunan pusat pertokoan di lahan RS Mata Yap. Ketika itu salah satu adik Sultan giliran jadi endorser.
Justifikasi pembangun pusat perbelanjaan selalu berkata itu dilakukan demi upaya peningkatan perekonomian masyarakat Yogya. Satu hal yang sering tak dapat tidak bertentangan dengan persepsi banyak orang tentang yogya yang sebenarnya tak segitunya menghamba pada kemajuan ekonomi.
Begitu beda dengan dinamika kota lain, di Jogya banyak orang yang merasakan Jogya identik dengan kepasrahan; warganya tak tampak ngoyo dalam mengejar kekayaan. Banyak cerita romantisme bagaimana para penjual makanan, pemilik kos, tukang becak, seniman gamelan, tukang becak hingga tukang koran yang sering mengabaikan itung-itungan ekonomi ke pelanggannya.
Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri sebenarnya telah mengeluarkan instruksi untuk menahan izin pembangunan gedung hotel baru. Citra kota, status keistimewaan, potensi persaingan bisnis yang liar dan tak terkendali, serta aspirasi masyarakat jadi pertimbangan mengapa Sultan merasa perlu menegur pemerintah kota terkait maraknya pendirian hotel. Sultan memberi syarat bahwa pembangunan hotel di kabupaten/kota harus mencapai tingkat kebutuhan minimal 80%. Jikalau kurang,  maka izin bisa di tahan.
Hingga saat ini telah terlapor beberapa aksi aliansi warga yang menolak pembangunan hotel di kota Jogya. Di dusun Karangkanjen misalnya, rencana pembangunan hotel Bale Ningrat yang membawa bendera Metropolitan Golden Management (Horison Hotel Group) diprotes persatuan warga RT 48/RW 13 dan RW 14. Warga menolak rencana pembangunan hotel yang direncanakan  berlantai lima dengan luas 5.000 meter persegi itu karena potensi polusi udara, pencemaran drainase air dan kepadatan lalu lintas. Wilayah Karangkanjen sendiri termasuk dusun terpadat karena berada dekat dengan daerah wisata kota.

Imm Ft Umy.

 https://annisamuawanah.wordpress.com/2013/07/31/potensi-dan-permasalahan-kota-yogyakarta/

Sunday, 16 November 2014

Mengharukan, Penyesalan Terdalam Seorang Bankir Sukses

TRIBUN-MEDAN.com – Hidup ini berjalan begitu cepat dan ringkas. Terkadang, kita bahkan tidak sadar, atau mungkin berpura-pura menerima, bahwa kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Kalian tahu, ternyata lebih mudah mencari pekerjaan atau jodoh dibanding menjadi pribadi yang kita inginkan atau cita-citakan.
John Jerryson, seorang bankir sukses berusia 46 tahun, menulis sebuah surat terbuka di sebuah media lokal Australia. Ia menceritakan seluruh kisah hidupnya di dalam tulisan itu. Namun jangan berharap Anda akan membaca kisah sukses seorang bankir disini. Karena yang tertulis ternyata hanyalah penyesalan akan hidupnya. Ia, akhirnya, sadar bagaimana ia menyia-nyiakan hidupnya selama ini. John bahkan menganggap dirinya bagaikan orang asing.
Ratusan orang merespon surat terbuka John dan banyak diantaranya memberikan simpati dan motivasi. Apa sebenarnya yang dituliskan John dalam suratnya?
“Hai, namaku John. Aku sudah berpikir cukup lama, namun akhirnya aku menuliskan hal ini. Aku harus mengeluarkan semua yang tersimpan di hatiku. Aku seorang bankir yang berusia 46 tahun dan selama ini ternyata aku hidup tidak seperti yang aku inginkan. Semua mimpiku, keinginanku, sudah hilang. Aku selalu kerja enam hari selama seminggu dalam 26 tahun ini. Aku selalu memilih jalur yang aman untuk semua yang kulakukan. Tak kusangka hal itu lah yang ternyata justru telah mengubah pribadiku.
Aku mendapati istriku ternyata sudah berselingkuh sejak 10 tahun terakhir. Anakku juga tidak begitu peduli denganku. Aku juga baru sadar bahwa aku tidak hadir di pemakaman ayahku tanpa ada alasan apapun. Hobiku menulis novel tapi aku tidak pernah menyelesaikannya. Aku juga tidak jadi menggeluti hobi travellingku yang selalu kucita-citakan.  Padahal hal-hal itulah yang menjadi keinginan dan cita-citaku sejak masih remaja dulu. Kalau lah gambaran remajaku datang saat ini, aku pasti sudah memukul wajahku sendiri. Aku akan menyesali kenapa semua mimpiku begitu cepat hancur.
Masih seperti kemarin rasanya ketika aku masih berumur 20 tahun. Masih seperti kemarin rasanya ketika aku begitu bernafsu mengubah dunia. Orang-orang di sekitar begitu menyayangiku. Dan aku juga menyayangi mereka. Aku begitu inovatif, kreatif, spontan, tak takut resiko dan sangat baik kepada orang lain. Aku hanya punya dua mimpi, yaitu menulis sebuah buku dan yang berikutnya adalah mengelilingi dunia dan menolong mereka yang membutuhkan.
Lalu akhirnya aku menikah dengan perempuan yang kupacari selama empat tahun. Cinta yang begitu nyata. Ia menyukai semua hal yang ada padaku. Spontanitas, enerjik dan kemampuanku untuk membuat orang lain tertawa dan merasa begitu dicintai.
Aku tahu bahwa bukuku kelak akan mengubah dunia. Aku akan memperlihatkan cara pandang yang berbeda, membuat pembacaku berpikir dengan cara yang berbeda sehingga. Aku pun bersemangat menulis buku itu sejak umur 20 tahun. Ketika itu aku sudah sampai di halaman 70. Dan kini, ketika umurku sudah 46 tahun, bukunya tetap masih di halaman 70….
Dulu aku pernah backpacker ke New Zealand dan Philipina. Aku berencana mengelilingi Asia, Eropa dan kemudian Amerika. Ternyata sampai saat ini pun, aku tidak pernah lagi pergi ke tempat lain selain di dua negara itu.
Dimana sebenarnya kesalahanku? Penyesalanku terjadi ketika saat aku berpikir bahwa aku harus menggeluti pekerjaan yang mapan. Yang sesuai dengan perkuliahanku. Aku memilih bekerja kantoran, dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Setiap hari seperti itu. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Apakah itu yang dinamakan hidup? Ketika aku harus bekerja dan hanya mengisi waktu dengan makan malam, bekerja untuk persiapan esok hari di kantor dan tidur jam 10 malam? Lalu bangun esoknya di jam 6 pagi? Itu yang namanya hidup? Oh Tuhan, terkadang aku sampai lupa kapan terakhir kali aku bercinta dengan istriku.
Istriku, ya istriku akhirnya mengakui kalau ia telah berselingkuh selama 10 tahun terakhir. 10 tahun! Tampaknya begitu lama ya? Tapi aku tak lagi tahu bagaimana rasanya. Bahkan aku tidak merasa sakit hati. Katanya ia selingkuh karena aku telah berubah. Aku tak seperti diriku yang dulu. Lalu apa sebenarnya yang kulakukan 10 tahun terakhir ini? Selain bekerja dan bekerja, aku tak tahu lagi apa yang pernah kulakukan. Yang pasti aku sadar, aku bukanlah suami yang baik seperti orang kebanyakan. Tidak menjadi diriku sendiri.
Siapa sebenarnya aku? Apa yang terjadi denganku? Mengetahui istriku sudah selingkuh pun aku diam saja. Aku bahkan tidak menuntut perceraian. Tidak marah. Tidak berteriak kepadanya. Dan bahkan tidak menangis. Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika aku menuliskan surat ini justru aku menangis. Tapi bukan karena kelakukan istriku. Melainkan karena aku merasa benar-benar hampa.
Ayahku meninggal 10 tahun yang lalu. Aku ingat betul hari itu. Ibuku menelponku dan memberi kabar bahwa ayah sakit keras. Tapi aku sangat sibuk saat itu karena harus mempersiapkan masa promosi jabatanku. Padahal sudah 15 tahun aku tidak melihat ayahku. Tapi aku tak pernah datang menjenguknya dan berharap ia akan baik-baik saja. Ia meninggal. Disaat yang bersamaan jabatanku dinaikkan di kantor.
 Ketika ia meninggal, aku malah berkata pada diriku sendiri bahwa tak masalah kalaupun aku tak datang. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Semua kurasionalisasi. Semuanya kubuat menjadi mungkin. Pola pikir yang sebenarnya sangat salah karena hanya untuk mendapatkan kemapanan secara finansial.
Sekarang aku sadar, semua ini tidak benar. Aku menyesali banyak hal yang tidak jadi kulakukan padahal aku masih memiliki kemampuan. Aku menyesal karena pekerjaanku sudah mengambil alih seluruh hidupku. Aku suami yang buruk..Aku hanyalah mesin pencari uang.
Sekarang aku menyesal karena tidak menyelesaikan novelku. Tidak mengelilingi dunia seperti yang kuimpikan. Tidak pernah menjadi ayah yang selalu siap untuk anaknya. Aku bagaikan dompet tebal yang tidak memiliki rasa..
Kalau kalian membaca ini dan sedang memikirkan masa depan kalian, kuharap jangan menunda apapun. Jangan tunda mimpi-impi kalian. Percayalah pada kemampuanmu. Lakukanlah sesuatu selagi kau masih muda. Jangan cepat merasa nyaman. Jangan lupakan teman-teman dan keluarga terbaikmu. Jangan sia-siakan hidupmu seperti yang kulakukan. Kumohon jangan…
Maaf karena aku bercerita terlalu panjang. Sekarang aku merasa sangat hampa, tua dan begitu lelah…. (ers/tribun-medan.com)


Wednesday, 5 November 2014

https://www.facebook.com/pc.immarfakhruddin.9?ref=br_rs




MAHASISWA


Orang bilang mereka kandidat orang-orang sukses
Manisnya titile sarjana siapa yang ngga ke pincut
Masa depan cerah seolah telah di depan mata
Tapi masa depan apa?

Orang bilang mereka kaum kreatif
Beragam inovasipun muncul dari hasil pemikiran mereka
Yaa mereka memang banyak melahirkan inovasi
Tapi, itu apa dan untuk siapa?
     
Mereka mengaku bukan budak
Ya, bukan budak kurikulum
Mereka merasa kaum yang bebas
Ya, bebas dari apa?

Kerja di perusahaan besar itu cita-citanya
Seolah mereka belajar hanya untuk mentok di meja-meja kantor
Tidak peduli itu perusahaan apa, yang penting upahnya besar
Belajar untuk jadi pesuruh, mungkinkah itu?
Apakah selama ini mereka belajar untuk jadi penyuruh?

Katanya, dengan banyak belajar maka title itu akan cepat di raih
Title tak ubahnya upah bagi yang rajin belajar
Ya title sarjana

Tapi, belajar apa dan untuk apa?

By:soer

Wednesday, 18 June 2014

Sastra: Deklarasi Matinya Ikatan

Tulisan ini karya Immawan Bagus Susetyo, beliau menulis ini atas keprihatinan beliau terhadap kondisi kader IMM FT UMY 2012 yang notabendnya akan menjadi pimpinan Komisariat 2014/2015 yang di nilai kurang progresif. ketika postingan ini muncul di halaman grup IMM FT UMY saya bahkan berulang-ulang kali membacanya, saya selaku kader IMM FT UMY angkatan 2012 merasa tertantang atas sindiran yang di lakukan Immawan Bagus Susetyo lewat tulisannya, di samping itu saya juga selaku kader 2012 mengiyakan bahwasanya kondisi kader IMM FT UMY 2012 memang kurang progresif bahkan sebagian besar dari kami merasa acuh tak acuh akan status mereka sebagai kader IMM FT UMY, dan seolah-olah merekapun lupa kalau mereka pernah di sumpah atas nama Allah swt. untuk mengabdi kepada IMM FT UMY.
Berikut ini adalah link facebook Immawan Bagus Susetyo: https://www.facebook.com/dhen.bagoes.ngarso?fref=nf
twitter: https://twitter.com/radhen22

Sastra: Deklarasi Matinya Ikatan
kau itu banyak,
kosong.. namun tak mau mengisi,
tak tau logika struktur,
apalagi tentang etika organisasi,
sok-sokan menafsirkan medan,
sudah terbukti.. belumlah berangkat kaupun sudah mati,
tak me-RE-VO-LU-SI !,
tetap saja memaksa memantaskan diri,
tak RAPAT !-kan barisan,
mau merapat jika ada kepentingan,
tak PRO-GRE-SIF !
dominasimu hanya pasif,
tak MI-LI-TAN !,
malahan cenderung cengengesan,
tak baca buku,
terlihat jika bicara NGAWUR ! melulu,
tak berdiskusi,
lalu dengan apa kau me-RE-VO-LU-SI ?,
"apa guna Negarakertagama kau karang Prapanca !"
jika Majapahit kemudian dihancurkan perang saudara,
"apa guna Negara ini kau dirikan Soekarno !"
jika kemudian menjadi sarang koruptor,
"apa guna kau kritisi birokrasi ini Soe Hok Gie !"
jika kemudian orang yang MENGAKU berada dibarisanmu berkhianat pada IKRAR-nya sendiri,
Kini kusampaikan sebuah Deklarasi keputusasaaan,
agar anak cucuku nanti,
ikut menikmati kemegahan dan andil dalam perjuangan dibarisan ini,
atau,
sama sekali tak mengenal.. karena saat itu ternyata Ikatan sudah mati.
.senopathy/.


Friday, 11 April 2014

Bertempat di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, kami melakukan interview kebeberapa narasumber, di antara banyaknya profesi yang mengantungkan hidupnya di  jalan Malioboro, kami memimilih 3 profesi untuk di jadikan sample analisa social kami, dan ke tiga profesi itu ialah tukang parkir, tukang becak, dan pedagang kaki lima. Perlu di ketahuai dalam proses interview ini kami berusaha agar menyembunyikan identitas asli kami guna mengindari agar narasumber yang kami tanya tidak merasa terbebani atas pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan, kami berusaha santai dan sedekat mungkin dengan sang narasumber, agar sang narasumberpun enjoy dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan. Untuk mendapatkan data dari narasumber ini kami melontarkan beberapa pertanyaan ke pada mereka, dan beberapa pertanyaan tersebut adalah, Domisili narasumber?, apakah mempunyai keluarga di Jogja?, permasalahan selama ini dalam menjalankan profesinya?,  jika dia tukang becak apa itu milik pribadi? Dan kalau dia tukang parkir apakah ada yang mengkoordinir?, kemudia bagaimana tanggapan mereka tentang Aksi demonstrasi mahasiswa yang sering terjadi di jalan Malioboro?.
Pada percobaan pertama kami berkesempatan mewawancarai seorang ibu penjual sate ayam, beliau berasal dari Madura, namun saat ini ada beberapa keluarga beliau yang tinggal di Jogja, dalam menjalankan usaha terkadang beliau sering di tahan satpol pp lantaran dalam menjalankan usaha ini mereka tidak mengantongi ijin usaha, kemudian beliau mengatakan kalau usaha ini milik sendiri alias tidak ada yang mengkoordinir, tanggapan beliau tentang seringnya aksi demonstrasi mahasiswa biasa aja selama itu tidak menganggu kegiatan beliau berdagang.
Narasumber kedua kami mewawancarai tukang parkir, beliau adalah orang Jogja asli, lantaran orang Jogja maka keluarga besarnya tentu juga masih ada di Jogja, beliau mengaku dalam menangani masalah parkir tidak terlalu banyak masalah yang di alami, cuman beliau sempat mengatakan bahwasanya dulu sering terjadi insiden kehilangan helem namun sekarang insiden itu hampir tidak terjadi lagi, beliau juga mengatakan bahwa yang mengkoordinasi mereka adalah pemerintah kota Jogja, kemudian beliau mendukung aksi demonstrasi mahasiswa selama aksi tersebut benar-benar mewakili aspirasi masyarakat dan tidak menganggu masyarakat umum.

Dan narasumber ketiga kami adalah tukang becak, beliau asli Jogaj, keluaraganya juga masih berada di Jogja, sebenarnya beliau ini lebih pas di sebut tukang becak motor, lantaran beliau tidak menggunkan sepeda dalam menjalankan becaknya, melainkan menggunakan mesin sepeda motor untuk menjalankan becaknya, karena menggunkan mesin dalam menjalankan becaknya maka beliau mengeluhkan mahalnya harga BBM, beliau berharap agar pemerintah tidak lagi menaikan harga BBM, karna itu akan sangat membebani, beliau juga mengatakan bahwa becak motor itu adalah milik sendiri, kemudian beliau menanggapi aksi demonstrasi mahasiswa sebagai hal yang biasa aja, selama tidak merugikan orang lain beliau mengatakan itu hal yang biasa dan wajar.