Monday, 18 February 2013

Sarjana Komputer di Era Informasi


Kebutuhan SDM di bidang teknologi informasi menjadi semakin besar, seiring relokasi industri TI dari negara maju ke negara berkembang. Kenyataan itu seharusnya menjadi kabar baik bagi para Sarjana Komputer (S.Kom) di Indonesia, agar bisa mengisi kesempatan kerja di bidang TI tersebut. kebutuhan tenaga kerja profesional bidang TI terus tumbuh, seiring dengan produk dan layanan TI yang makin berkembang.
Industri TI, terus melangkah maju dengan perusahaan raksasa kelas dunia, seperti Microsoft dan IBM. Khusus di Indonesia industri TI dapat dikembangkan dan menyumbangkan devisa negara, paling tidak sekitar USD 8,2 miliar sampai tahun 2010. Target ini tidak berlebihan karena pasar dunia TI sudah mencapai USD 1 triliun.
Kebutuhan SDM TI profesional semakin tinggi, sehingga memungkinkan banyak pekerjaan di bidang TI yang bisa dilakukan. Tenaga TI profesional tidak mudah diperoleh bahkan di Lembah Silikon (AS) sekalipun masih kekurangan SDM TI. Mereka mendapatkan SDM TI dengan mengimpor dari India dan Cina, atau melakukan relokasi pabriknya ke negara berkembang seperti Indonesia.
Disisi lain muncul sebuah fenomena, ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan.
Selain itu pula, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan Perguruan Tinggi ?. Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi tersebut. Kualifikasi seperti, memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruang Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja.
Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja, dalam hal kualifikasi lulusan Sarjana Komputer (S.Kom) yang mereka syaratkan. Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana tersebut dalam suatu pekerjaan. Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Selain itu pula kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan.
Namun demikian, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan. Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak masuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana komputer oleh para pencari tenaga kerja.
Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, maka perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja, dimaksudkan untuk bahan patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, maka kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.
Tuntutan kompetensi Sarjana Komputer (S.Kom) selain memiliki keterampilan dan keahlian di bidang TI, juga harus memiliki kemampuan yang biasa dihadapi oleh professional yang bergerak dibidang TI. Ada beberapa kemampuan menarik yang harus dimiliki adalah sbb :
1. Kemampuan menulis.
Untuk mampu menulis dengan baik, diperlukan persiapan dan latihan yang intensif. Mulai dari latihan penulisan ide ide cerita, penggunaan kosa kata yang tepat, alur cerita mengalir dengan terstruktur. Umumnya mahasiswa Indonesia mengalami kesulitan bila mereka diminta untuk menulis, terlebih lagi kalau penulisan harus di lakukan dalam bahasa Inggris. Mengandalkan semata pada kemampuan grammar dan vocabulary tidak cukup menghasilkan karya tulis yang baik.
2. Kemampuan mengutarakan ide dan berpikir kreatif.
Umumnya mahasiswa Indonesia mengalami hambatan dalam mengutarakan ide kreatif ke orang lain. Mahasiswa Indonesia umumnya tidak mendapat kesempatan untuk berlatih kreatifitas. Pola pembelajaran secara umum di sekolah kita menekankan pada aspek kepatuhan yang jauh sekali dari aspek kreatifitas. Umumnya mahasiswa Indonesia belajar untuk memenuhi kemauan dosennya. Beberapa keyword yang sering ditemui berupa: kisi-kisi, aturan, perintah, sanksi, harus, benar atau salah. Berbeda pendapat merupakan hal yang taboo. Sementara keyword untuk berpikir kreatif yang seyogianya ditanamkan berupa: pemilik ide, argumentasi, referensi, bukti, hasil survey, benar menurut siapa atau benar dari sudut pandang yang mana. Mengutarakan ide & berpikir kreatif juga perlu di dalam mendesain solusi TI. Rasanya jarang sekali kita temui adanya solusi TI yang sama untuk perusahaan yang sejenis apalagi berbeda. Hal ini disebabkan kondisi dan kebutuhan yang berbeda untuk setiap perusahaan. Setiap perusahaan perlu dianggap unik bila kita berbicara TI. Hal ini merupakan tantangan bagi professional TI untuk memikirkan solusi yang tepat untuk kondisi perusahaan yang tepat.
3. Kemampuan presentasi.
Setelah menulis dan berpikir kreatif, kemampuan presentasi merupakan kemampuan yang tersulit. Karena presenter harus berhadapan dengan orang banyak, yang mungkin diantaranya jauh lebih pintar dari anda. Tantangan lain adalah bagaimana membawa suasana presentasi ini menjadi presentasi yang menarik dan diminati orang. Kemampuan mendengar juga tidak kalah pentingnya dalam waktu presentasi. Seorang presenter harus mampu membaca gelagat dengan cepat, berbicara dengan bahasa yang tepat kepada orang tepat.
4. Kemampuan menggunakan komputer
Penggunaan komputer tidak hanya sebatas menggunakan aplikasi komputer saja. Tetapi kemampuan ini meliputi kemampuan menyusun ide disertai sisipan desain grafis, animasi dengan sedikit sentuhan multimedia dapat membantu membangkitkan minat dan emosi peserta. Sehingga peserta tidak mudah bosan dan terjebak dalam kejenuhan. Penggunaan desain grafis dan multimedia ini tidak berarti presenter harus memiliki nilai seni yang tinggi atau penguasaan komputer grafis yang canggih. Penguasaan powerpoint saja sudah dirasakan cukup untuk membawakan materi presentasi.
5. Kemampuan mengolah informasi.
Pengolahan informasi berarti bagaimana kita menyajikan informasi yang tepat dan terbaru kepada orang yang tepat. Referencing dan studi kasus merupakan pendukung penting dalam menyampaikan argumentasi anda. Seringkali semua ide kreatif anda menjadi tidak berguna karena tidak didukung oleh bukti dan referensi yang kuat. Presenter cerdik biasanya pintar memanfaatkan hasil survey/statistik dari perusahaan terkenal untuk mendukung argumentasinya.
6. Kemampuan membuat keputusan.
Kemampuan membuat keputusan tidak terlepas dari bagaimana kita menyederhanakan permasalahan dan menginspirasikan orang untuk berani mengambil resiko. Bila kita berbicara kelebihan TI, maka resiko itu tersembunyi di dalam setiap kelebihan yang ditawarkan. Semakin tinggi kelebihan yang dijanjikan maka semakin tinggi resiko yang dikandungnya.
7. Kemampuan bekerja dalam tim.
Didalam dunia nyata rasanya tidak pernah kita temui ada solusi TI yang efektif 100% atau tidak efektif sama sekali. Seringkali solusi canggih, tepat dan bermanfaat bagi kita belum tentu memberikan hasil yang sama bagi orang lain. Untuk ini diperlukan kemampuan untuk melihat dunia berbeda dari sudut pandang yang berbeda (Soft Skill). Pendekatan soft skill mengajarkan kita bahwa semua orang melihat kebenaran dari sudut pandangan yang berbeda. Kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda ini penting memahami interaksi dan kepentingan manusia dalam lingkungan perusahaan. Kemampuan seperti ini dapat kita latih bila kita belajar bekerja dalam tim. Didalam tim seringkali kita melihat teman anda tidak sependapat dengan anda, walaupun anda merasa pendapat anda yang terbaik dan anda yang paling pintar. Pertanyaaan adalah bukan kita mencari siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mengakomodasi kebenaran yang berbeda dari setiap orang dalam mencapai hasil yang optimal.
Tuntutan kompetensi diatas merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh professional TI di dunia kerja. Semoga tuntutan kompetensi yang diusulkan diatas bermanfaat tidak hanya untuk lulusan TI saja tetapi juga professional dibidang lain.

Tuesday, 12 February 2013

proses instal windows 8

*Begin
-Sediakan file ISO Windows 8
-Sediakan USB Flasdisk minimal ukuran 4GB
*Repair  menyesuaikaan antara ukuran Flasdisk dengan file ISO Windows  8nya
*Begin
-Usahakan Flasdisk yang kita gunakan dalam keadaan kosong
*IF Flasdisk belum kosong
*Begin hapus semua file yang ada pada Flashdisk
*While Buka windows 7 USB
-Download Tool pada computer
*Repair
-Untuk mmenghindari blokir dari Antivirus, anda harus bisa menonaktifkan Antivirus terlebih dahulu
*IF antivirus masih aktif
*Begin matikan antivirus
*While
-Carilah file windows 8 iso yang kita simpan di computer dengan *Do tekan Browser kemudian Next
-Pilihlah USB device, carilah Flasdisk yang akan kita jadikan installer
*While format flashdisk akan di lakukan sehingga semua data sebelumnya akan hilang, *DO next
*Until flashdisk sekarang sudah bisa untuk menginstall Windows 8 pada netbook dengan terlebih dahulu mengganti setting BIOS agar booting dari USB

riview Msc. Word 2010

riview Msc. Word 2010
di sini

sekedar renungan

Kebahagiaan akan terasa lebih lengkap apa bila kita di kelilingi oleh orang-orang yang kita cintai. Berbicara tentang cinta, ada beberapa orang yang tentunya tidak di ragukan lagi ketulusan cintanya, dan tidak akan pernah melepaskan cinta mereka untuk kita, yaitu keluarga, terutama orang tua. Keberhasilan dan perjuangan yang kita capai hari ini tidak terlepas dari cinta kasih sayang dukungan serta bimbingan dari orang tua. BAHAGIAKU SURGA MEREKA, DAN DERITAKU PILU MEREKA. (karya Feby) Aku berdiri mengenakan toga ini di sebuah jalan setapak yang gelap, pandanganku tertujuh pada dua orang di kejauhan sana, dengan senyuman yang tak asing di mataku, dua orang yang sangat aku hargai, dua orang yang sangat aku hormati, aku cintai dan aku sayangi, yaa! Mereka Papa dan Mamaku, dengan di sertai senyuman aku berjalan menghampiri mereka, seiring dengan langkah terlintas di benaku, atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini, Mama yang telah mengandungku selama sembilan bulan, Mama yang suda memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini, Mama juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Papa yang telah mendidiku, Papa yang rela bekerja banting tulang ihklas mengeluarkan keringatnya agar aku dapat menikmati hidup, detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun, apakah yang dapat ku lakukan untuk membalas mereka?!, sering aku tutup kuping ngga mau dengarin nasehat mereka, sering banget aku bohong kepada mereka untuk kepuasanku, sering aku ngelawan jika mereka marah karna kenakalanku, sering juga aku banting pintu di hadapan mereka jika mereka tidak mengabulakan permintaanku, dan bahkan sering aku mengeluarkan kata-kata kasar yang ngga pantas mereka dengar dari bibirku, dasar cerewet! Kuno! Kolot!. Tapi apakah mereka mendendam rasa dendam terhadapku?! Tidak! tidak sama sekali! Mereka dapat tulus memaafkan kekilafanku, mereka tetap menyayangiku dalam setiap hembusan nafas mereka, bahkan mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doa-doa mereka hingga aku menjadi seperti sekarang ini, ya Tuhan betapa durhakanya aku, tak sadarka aku bahwa mereka adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku, langkah-langkahku terhenti di hadapan mereka, dan ku pandangi Papa dan Mamaku inci demi inci, badan yang dulu tegap kekar kini mulai membungkuk, rambut yang dulu hitam kini mulai memutih, dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkeriput, ku tatap mata mereka yang berbinar-binar dan mulai meneteskan air mata bahagia, air mata haru, air mata bangga melihatku memakai toga ini, ku cium tangan mereka, ku peluk mereka sambil berkata, “Papa, Mama, yang aku berikan hari ini tidak akan cukup membalas semua yang telah Papa dan Mama berikan selama ini kepadaku, terima kasih Pa, terima kasih Ma, aku sayang Papa dan Mama hingga sampai hayatku”. Terima kasih.

Thursday, 7 February 2013


LCD Text Generator at TextSpace.net

Wangi-Wangi, Wakatobi


Wangi-Wangi adalah ibukota dari kabupaten wakatobi dan merupakan sebuah kecamatan di Sulawesi TenggaraIndonesia.
Wangi-Wangi atau yang juga dikenal sebagai Wanci mempunyai luas hanya 23.359 km. Secara geografis dibagi dalam 14 desa dan 6 kelurahan. Pulau pulau kecil yang mengelilingi pulau ini di antaranya adalah KapotaKampenauaTimuSumangga, dan Ottoue. Di antara pulau pulau tersebut hanya Kapota saja yang didiami oleh penduduk.
Kecamatan Wangi-Wangi menurut hasil sensus penduduk pada tahun 2011 berjumlah 23.869 orang dengan 11.647 orang laki laki dan sisanya 12.222 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk kecamatan wangi - wangi merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan kabupaten lain di wakatobi yakni sebesar 1,93 persen(2011).

Batas Wilayah

UtaraSelatanTimurBarat
Laut BandaKecamatan Wangi-Wangi SelatanLaut BandaLaut Flores


Pulau

Pulau yang termasuk dalam kecamatan ini ada 3 yaitu :
  1. Pulau Nua Indah
  2. Pulau Wangiwangi
  3. Pulau Moli'i Sahatu

INDONESIA


Fossils and the remains of tools show that the Indonesian archipelago was inhabited by Homo erectus, popularly known as the "Java Man", between 1.5 million years ago and as recently as 35,000 years ago.[15][16][17] Homo sapiens reached the region by around 45,000 years ago.[18] In 2011 evidence was uncovered in neighbouring East Timor, showing that 42,000 years ago these early settlers had high-level maritime skills, and by implication the technology needed to make ocean crossings to reach Australia and other islands, as they were catching and consuming large numbers of big deep sea fish such as tuna.[19]
Austronesian peoples, who form the majority of the modern population, migrated to South East Asia from Taiwan. They arrived in Indonesia around 2000 BCE, and as they spread through the archipelago, confined the native Melanesian peoples to the far eastern regions.[20] Ideal agricultural conditions, and the mastering of wet-field rice cultivation as early as the 8th century BCE,[21] allowed villages, towns, and small kingdoms to flourish by the 1st century CE. Indonesia's strategic sea-lane position fostered inter-island and international trade, including links with Indian kingdoms and China, which were established several centuries BCE.[22] Trade has since fundamentally shaped Indonesian history.[23][24]
The nutmeg plant is native to Indonesia's Banda Islands. Once one of the world's most valuable commodities, it drew the first European colonial powers to Indonesia.
From the 7th century, the powerful Srivijaya naval kingdom flourished as a result of trade and the influences of Hinduism and Buddhism that were imported with it.[25][26] Between the 8th and 10th centuries, the agricultural Buddhist Sailendra and Hindu Mataram dynasties thrived and declined in inland Java, leaving grand religious monuments such as Sailendra's Borobudur and Mataram's Prambanan. The Hindu Majapahit kingdom was founded in eastern Java in the late 13th century, and under Gajah Mada, its influence stretched over much of Indonesia.[27]
Although Muslim traders first traveled through South East Asia early in the Islamic era, the earliest evidence of Islamized populations in Indonesia dates to the 13th century in northern Sumatra.[28] Other Indonesian areas gradually adopted Islam, and it was the dominant religion in Java and Sumatra by the end of the 16th century. For the most part, Islam overlaid and mixed with existing cultural and religious influences, which shaped the predominant form of Islam in Indonesia, particularly in Java.[29] The first regular contact between Europeans and the peoples of Indonesia began in 1512, when Portuguese traders, led byFrancisco Serrão, sought to monopolize the sources of nutmeg, cloves, and cubeb pepper in Maluku.[30] Dutch and British traders followed. In 1602 the Dutch established the Dutch East India Company (VOC) and became the dominant European power. Following bankruptcy, the VOC was formally dissolved in 1800, and the government of the Netherlands established the Dutch East Indies as a nationalized colony.[31]
For most of the colonial period, Dutch control over the archipelago was tenuous outside of coastal strongholds; only in the early 20th century did Dutch dominance extend to what was to become Indonesia's current boundaries.[32] Despite major internal political, social and sectarian divisions during the Indonesian National Revolution, Indonesians, on the whole, found unity in their fight for independence. Japanese occupation during World War II ended Dutch rule,[33][34] and encouraged the previously suppressed Indonesian independence movement.[35] A later UN report stated that four million people died in Indonesia as a result of the Japanese occupation.[36] Two days after the surrender of Japan in August 1945, Sukarno, an influential nationalist leader, declared independence and was appointed president.[37][38][39][40] The Netherlands tried to reestablish their rule, and the resulting conflict ended in December 1949, when in the face of international pressure, the Dutch formally recognized Indonesian independence[38][41] (with the exception of the Dutch territory of West New Guinea, which was incorporated into Indonesia following the 1962 New York Agreement, and the UN-mandated Act of Free Choice of 1969).[42]
Sukarno, Indonesia's founding president
Sukarno moved Indonesia from democracy towards authoritarianism, and maintained his power base by balancing the opposing forces of the military and the Communist Party of Indonesia (PKI).[43] An attempted coup on 30 September 1965 was countered by the army, who led a violent anti-communist purge, during which the PKI was blamed for the coup and effectively destroyed.[44][45][46] Around 500,000 people are estimated to have been killed.[47][48] The head of the military, General Suharto, outmaneuvered the politically weakened Sukarno, and was formally appointed president in March 1968. His New Order administration[49] was supported by the US government,[50][51][52] and encouraged foreign direct investment in Indonesia, which was a major factor in the subsequent three decades of substantial economic growth. However, the authoritarian "New Order" was widely accused of corruption and suppression of political opposition.[33][53][54]
Indonesia was the country hardest hit by the late 1990s Asian financial crisis.[55] This led to popular protest against the New Order which led to Suharto's resignation in May 1998.[56] In 1999, East Timor voted to secede from Indonesia, after a twenty-five-year military occupation that was marked by international condemnation of repression of the East Timorese.[57] Since Suharto's resignation, a strengthening of democratic processes has included a regional autonomy program, and the first direct presidential election in 2004. Political and economic instability, social unrest, corruption, and terrorism slowed progress, however, in the last five years the economy has performed strongly. Although relations among different religious and ethnic groups are largely harmonious, sectarian discontent and violence has occurred.[58] A political settlement to an armed separatist conflict in Aceh was achieved in 2005.[59]